paperlinesz

Happy Birthday, Keiramina. With love, Riahis.

Like I said, Keiramina loves surprises and fireworks.

Maka dari itu gue memutuskan untuk merayakan hari ulang tahunnya kali ini dengan sedikit lebih istimewa dari sekedar makan malam dan sebuah hadiah serta satu buket bunga, seperti tahun-tahun sebelumnya.

Kalau biasanya gue akan berada di sisinya tepat saat jam menunjukan pukul dua belas malam, malam tadi Keiramina harus menemani Mimam terbang ke Singapura yang membuat gue hanya bisa mendengar suaranya melalui sambungan telepon.

“Happy birthday, Keiramina.” ucap gue begitu panggilan telepon kami terhubung.

Gue mendengar dirinya mendengus di ujung sana.

“Kenapa?” tanya gue sambil terkekeh.

“I expect a fifteen minutes speech.” jawabnya kecewa dengan dahi yang sedikit berkerut, membuat gue terkekeh.

“No,”

“Wha – “

“You deserve more.” Nggak ada satu patah kata pun keluar dari mulutnya lagi. “Kamu besok landing jam delapan pagi jadi aku jemput sore aja ya? Sekitar jam lima? Nggak capek kan?”

“Nggak capek. Jam lima. Iya.”

Gue tahu dirinya tengah salah tingkah di ujung telepon, maka dari itu gue memutuskan untuk menyudahi obrolan kami dengan mengucapkan selamat ulang tahun sebelum akhirnya mengakhiri panggilan.

“Woi!” sebuah tepukan pelan berhasil membuyarkan lamunan gue. “Ngapain bengong di tangga.”

Gue menoleh dan mendapati Akarsana dengan baju putih polosnya yang penuh cat serta tangannya yang menggenggam berbagai macam kuas. “Kak Terra udah mulai?”

“Udah,” jawabnya sembari menuruni tangga, diikutin dengan gue di belakangnya. “Kak Kafka juga udah deket.”

Gue hanya mengangguk dan membiarkan Akarsana berjalan menuju halaman belakang rumah Oma, bergabung dengan Kak Terra yang tengah sibuk membuat salah satu dari sekian banyak kejutan untuk Keiramina hari ini.

Pandangan gue beralih ke ruang tengah yang dipenuhi suara teriakan dari dua orang yang tengah memasang dekorasi. Benar, hanya dua orang, namun kebisingannya seakan ada tiga kali lipat.

“Janitra mending lo minggir, gue nggak kelihatan.”

“Ya, pita silver harusnya di kanan bukan di kiri. Nggak becus lo ah.”

“Kagiiii! Janitra nih!”

Gue hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat dua kakak sepupu gue – Kaia dan Janitra, yang nggak berhenti mengganggu satu sama lain tanpa lelah. Membuat Kagi, yang tengah fokus dengan website salah satu wedding consultant ternama di Indonesia, meletakkan iPad serta melepaskan kacamatanya.

“Jan,” Kak Janitra yang sudah siap melemparkan perempuan di sebelahnya dengan balon, seketika mendengus pelan, membuat Kak Kaia tertawa puas dan menjulurkan lidahnya. “Tuh, Kama dateng, tuh.”

Sebelum gue sempat memproses kalimat Kagi, kedua orang tersebut sudah terlebih dahulu berlari menuju pintu depan. Detik setelahnya gue tersadar dan ikut berlari untuk menyambut sosok yang menjadi kesayangan kami dalam satu tahun terakhir.

Mobil sedan berwarna hitam yang baru saja terparkir rapih di antara mobil-mobil lain seketika di serbu dari segala arah. Ada Kak Janitra dan Kak Kaia serta gue dari pintu utama. Akarsana, Nebraska, dan Asa dengan baju penuh cat, tiba-tiba saja muncul dari pintu garasi yang tersambung dari halaman belakang.

“Pelan-pelan,” ujar Kak Kafka begitu melihat anak laki-lakinya dikerubungi oleh kami. “Nanti lecet.”

Bayi laki-laki berumur delapan bulan yang semula berada digendongan sang Ibu, dengan cepat berpindah ke pelukan Kak Kaia, membuatnya sedikit merengek kaget namun segera teratasi dengan candaan orang-orang di sekelilingnya.

Gue melihat Oma yang tengah berjalan menghampiri kerumunan kecil kami dengan bantuan tongkat kayu di tangan kirinya serta Kak Terra yang merangkul perempuan paruh baya tersebut di lengan kanannya. Dengan mata kelabu yang bersinar, Oma merentangkan kedua tangannya, bersiap menyambut cicit pertamanya ke pelukan.

Kak Kaia mendekatkan bayi laki-laki dalam dekapannya ke arah Oma dengan sedikit membungkuk lantaran tubuh tingginya yang menjulang. “Kama mirip Kak Kafka banget ya, Oma?”

Oma mengangguk dan mengalihkan pandangannya pada Kak Kafka yang tengah merangkul sang istri, keduanya terkekeh lantaran pernyataan yang kerap kali mereka terima sejak Kama lahir ke dunia, walaupun benar adanya kalau anak laki-laki dengan pipi tembam yang tengah tertawa melihat baju Kak Terra yang dipenuhi cat tersebut sangatlah serupa dengan sang ayah.

“Yang lain mana?” Oma menatap kami satu per satu. “Anaya? Embun? Ariella?”

Akarsana yang berada di sebelah gue seketika berdehem cukup keras, membuat gue dan Nebraska tertawa paham akan tingkahnya yang satu ini.

“Yuk, balik lagi yuk,” Akarsana tersenyum pahit sembari membalikan badan. “Balik kerja yuk udah jam tiga yuk keburu Keiramina dateng yuk.”

Gue dan yang lainnya hanya bisa tertawa mendengar alibi yang keluar dari mulut laki-laki bercelana pendek tersebut.

“Anaya masih di Bangkok, Oma.” jawab Kagi sembari membetulkan letak kacamatanya. “Kalo Embun di mana, Kar?”

“Di pelukan cowok lain!”

Gue refleks membalikan badan dan terbahak ketika mendengar jawaban Akarsana yang setengah berteriak, begitu pun yang lainnya. Sepupu gue yang satu itu, kisah cintanya nggak seindah parasnya.

“Kai,” panggil Kak Terra. “Udah 90%, mau lihat nggak?”

Satu sudut bibir gue terangkat, diikuti anggukan serta perasaan membuncah yang belum bisa gue jabarkan.

Kemarin sore saat gue dan Nebraska tengah merokok di balkon apartemen gue, ada satu hal yang kami bahas, yaitu nama. Sedari awal gue mengetahui nama lengkap Keiramina, sejak itu pula gue nggak pernah berhenti memanggil dirinya dengan nama lengkap, bukan karena menghindari panggilan yang sama dengan Keizyalara, namun, namanya terlalu cantik untuk nggak diucapkan dengan lengkap. Dari pikiran itu, Nebraska memberika satu ide yang gue pikir cukup layak untuk dijadikan sebuah hadiah yang sedikit berbeda.

“Karena lo suka sama nama dia, kenapa nggak lo minta tolong Kak Terra atau Kak Kafka bikin painting wajah dia dari namanya?” ujar Nebraska kala itu. “Paham kan maksud gue?”

Saat itu juga gue langsung menghubungi keduanya untuk menyampaikan keinginan gue akan ide buah hasil pemikiran Nebraska, yang dengan mudahnya di-iya-kan keduanya.

“Gimana?” tanya Kak Terra sewaktu kami berdiri di depan kanvas berukuran setengah badan gue. “Ada yang mau ditambahin lagi nggak?”

“Mau lo tambahin apa lagi emang, Kak?” gue terkekeh sembari menoleh ke arahnya. “Ini juga udah lebih dari cukup.”

Setelah menepuk pundak gue, Kak Terra beranjak dari tempat ia berdiri dan meninggalkan gue seorang diri di dalam bengkel melukisnya yang berada di sudut halaman belakang rumah Oma, tentu saja dengan gue yang masih terkagum-kagum akan hasil dari jari-jari mahirnya, dan hasil koreksi serta modifikasi oleh Kak Kafka.

Gue melipat kedua tangan di depan dada, mengamati wajah Keiramina yang tengah bertopang dagu secara di atas kanvas. Kadang gue maju satu langkah lebih dekat guna mengamati tulisan namanya yang menjadi kerangka dari keseluruhan lukisan, bagian ini hasil jerih payah Kak Kafka yang menghabiskan satu hari penuh di dalam bengkel. Gue nggak henti-hentinya bersyukur memiliki mereka, yang tanpa banyak pertmbangan akan dengan senang hati membantu – dalam segala urusan. Terlebih hari ini, ulang tahun Keiramina terakhir sebagai kekasih gue, karena kalau semua berjalan dengan lancar, musim panas tahun depan – persis sebelum hari ulang tahunnya, gue akan meminta dia untuk menikmati matahari terbenam di seluruh pejuru dunia, bersama, selamanya.

Terdengar menggelikan namun itulah kenyataannya.

“Kai,” Gue menoleh saat seseorang memanggil nama gue, mendapati Akarsana dengan wajah penuh konfeti dan glitter yang tengah menyengir lebar. “All done.”

Gue berjalan keluar dari bengkel dan kembali masuk melalui pintu halaman belakang rumah Oma, yang langsung disuguhi dekorasi sederhana nan cantik hasil kreasi kedua kakak sepupu gue yang tengah memasang wajah bangga di tengah ruangan, membuat gue mengacungkan kedua ibu jari tinggi-tinggi ke udara guna mengapresiasi hasil kerja keras mereka. Setelahnya gue meminta izin untuk menjemput Keiramina dan memberi waktu pada semua orang untuk bersiap-siap.


“Here comes the birthday girl,” Gue menghadiahi Keiramina pelukan singkat dan satu kecupan kecil di ujung bibirnya. “Happy birthday, Sayang.”

Keiramina menyibakkan seluruh rambut panjangnya kebelakang sebelum menarikku kembali ke dalam pelukan sembari berkata, “I miss you so much you don’t understand.”

Sepanjang perjalanan dari rumahnya menuju rumah Oma ia habiskan dengan menceritakan segala yang ia temui dan lakukan selama kurang lebih satu minggu kami nggak bertemu. Di mulai dari dirinya yang mengkonsumsi salad sayur tiga hari berturut-turut yang ia beli di sebelah hotel tempatnya menginap, hingga Mimam yang selalu mengajaknya ke SkyPark di sore hari. Keiramina juga nggak lupa membawa satu tas besar berisi buah tangan yang ia belikan untuk sepupu-sepupu gue, Oma, Ami dan Ayah, bahkan seluruh orang yang bekerja di rumah Oma.

Gue menghela napas lega saat mendapati mobil-mobil yang semula terparkir berantakan di halaman rumah Oma kini sudah menghilang masuk ke dalam garasi, Yasaskara did a great job. Lagipula gue nggak mau terlalu kelihatan jelas kalau akan ada acara kejutan untuk Keiramina hari ini.

“Oleh-olehnya biar di mobil aja, nanti minta tolong Pak Niam bawa masuk.” Gue mengulurkan tangan ke arah Keiramina yang dengan cepat ia amit sebelum gue bubuhin satu kecupan di punggung tangannya, membuat kedua pipinya bersemu merah.

Gue membiarkan Keiramina berjalan terlebih dahulu ke ruang tengah, seperti rencana utama, dan gue beberapa langkah di belakangnya karena harus menutup pintu utama.

“SURPRISE!”

“HAPPY BIRTHDAY, KEIRAMINA!”

“HAPPY BIRTHDAY, KIYA!”

Gue nggak bisa melihat ekspresi Keiramina, namun yang gue tahu pasti, kedua tangannya membekap mulut serta wajahnya yang bersemu semakin merah. Alih-alih berdiam diri memproses semuanya, perempuan cantik gue berseru kegirangan saat sadar ada sosok Kami si bayi kecil yang berada di antara kami, membuat dirinya semakin melompat dengan senang kala Kak Janitra mengayunkan Kama di gendongan Kak Janitra.

Hati gue menghangat melihat pemandangan ini, walaupun sangat disayangkan Ami dan Ayah serta Mimam, Pipap dan Abang nggak bisa hadir dikarenakan urusan penting masing-masing. Gue merangkul pinggulnya dan membawa ia mendekat ke meja dengan birthday cake yang sudah kami persiapkan, diikuti suara teriakan menggemaskan Kama saat melihat ornamen di sekitarnya yang berbeda dari biasanya. Setelah ia berhasil meniup api pada lilin yang entah sudah berapa kali ia coba lenyapkan dan sibuk memotong birthday cake-nya, gue dan Kak Terra berjalan mengendap-endap menuju bengkel tempat lukisan Keiramina disimpan.

“Hope she likes it.” ucap Kak Terra di saat kami melangkah masuk dan membuat semua orang terkejut.

“Happy birthday from us,” Gue melirik kanvas besar di sebelah gue dan Keiramina yang masih diam mematung secara bergantian. “Sini, buka.”

Keiramina mendekat ke arah kanvas yang masih ditutupi kain putih, beberapa kali ia menyapukan pandangannya ke setiap sosok yang berada di ruangan, yang tentu saja mereka tanggapi dengan senyuman. Setelah bertanya melalui sorot mata yang gue jawab dengan anggukan, Keiramina membuka kain putih tersebut dengan perlahan, detik berikutnya ia hanya mampu terdiam dengan kedua tangan membekap mulutnya.

Thank you semuanya,” Keiramina nggak bisa lagi membendung air mata suka citanya. “I feel loved. Thank you.”

“Anything for our girl.” jawab Kak Kafka yang langusng disetujui oleh semuanya.

Gue membiarkan Keiramina bermain dengan Kama dan Ibunya serta Kak Kaia, selagi gue dan yang lain merokok di halaman belakang. Sesekali gue mencuri pandang ke dirinya yang tengah tertawa lantaran sosok Kama yang sudah dua minggu lamanya ia perbincangkan secara terus menerus akibat Kak Kafka yang selalu berhalangan hadir saat kami menghabiskan akhir pekan di kediaman Oma.

“Kai,” panggil Kak Kaia dari dalam. “Temenin nih Keiramina, kalo hilang susah carinya. Gue mau bawa Kama ke kamar atas.”

Gue tertawa sembari bangkit dari kursi dan melangkah masuk menghampiri Keiramina yang tengah berpamitan dengan Kama yang sudah mulai rewel.

“Kailan,” bisik Keiramina dengan sorot mata sayu yang masih nampak basah karena sisa air mata saat kami sudah berada di sofa ruang tengah. “Aku nggak tahu lagi harus bilang apa selain terima kasih. Ke semuanya.”

“Anything for our girl,” Gue kembali mengutip kalimat Kak Kafka. “Anything for my girl. Kak Terra sama Kak Kafka sampe nggak tidur bikin itu.”

“Oh ya?” Keiramina menatap gue dengan satu sudut bibirnya yang terangkat. “Kamu nggak ikutan bikin kalau malam?”

Gue menggeleng. Lagipula dua manusia itu hanya bisa bekerja dengan serius di malam hari dan nggak ingin diganggu oleh siapa pun. Jadi gue dan yang lainnya hanya membantu saat matahari sudah terbit.

“Berarti kamu harus gantian dibikin nggak tidur malam ini.”

“That,” Gue bangkit dari kursi. “Is something I look forward to.”

Dengan satu gerakan cepat gue menarik Keiramina agar bangkit dari kursi dan berjalan menuju pintu utama setelah berpamitan singkat kepada para sepupu yang tentu saja mereka tanggapi dengan tawa dan anggukan serta ucapan hati-hati.

Extra chapter available on : karyakarsa(dot)com(slash)paperlinesz(slash)i-love-you-i-mean-it

Devil Doesn't Bargain

Buat gue pribadi, hidup di dunia tanpa berbuat baik ibaratan ke bar tanpa menikmati alkohol. Konyol, sih, tapi balik lagi, ada banyak macam alkohol yang tersedia, bahkan setiap negara punya ciri khasnya masing-masing, sama halnya dengan kebaikan. Jadi, nggak semua orang yang ke bar untuk meminum alkohol, ada yang pesan koktail, minuman bersoda, bahkan air mineral, berbanding lurus dengan kebaikan yang manusia tunjukan — nggak semua orang bisa terima, justru banyak yang disalah artikan, membuat sebagian memutuskan membenci seseorang hanya karena perbedaan persepsi atas arti luas kebaikan itu sendiri.

Gue melihat lampu apartemen Sachi yang sudah menyala, setelah hampir setengah jam menunggu di parkiran bawah gedung dua puluh sembilan lantai ini. Ada sedikit kelegaan pada napas gue setelah melihat pesan singkat yang baru saja gue kirimkan terbaca olehnya, walaupun pada menit berikutnya gambar profil miliknya kosong.

Gue diblok.

Suara ketukan pada kaca jendela seakan menarik gue kembali ke dunia nyata. alih-alih menurunkan kaca, gue memilih untuk membuka kunci pintu agar sosok yang tengah berdiri di sebelah mobil gue bisa segera masuk.

Terra hanya terkekeh begitu duduk di kursi penumpang, gue jelas tahu kalau ia tahu. He’s one of the smartest in the family. Jadi gue hanya bisa ikut terkekeh dan menggeleng.

So?” tanyanya dengan ambigu sembari mematikan ac mobil dan mengeluarkan satu kotak rokok dari saku celana pendeknya. “Congratulation on breaking someone’s heart for God-only-knows how many times.

Well,” Gue mengangkat kedua bahu. “Thank you?

“Orang gila.” ucapnya sembari melempar kotak rokok yang dengan sigap gue tangkap dan keluarkan satu isinya sebelum menurunkan kedua kaca depan agar asap rokok kami berdua nggak mengepul di dalam mobil.

“Lo tau kan kamar cewek gue nggak jauh dari lift?” Gue mengangguk sembari menghembuskan asap dari nikotin yang gue hisap. “Tadi gue di kamar Lele ada gue sama Shaf. Nggak lama dia pamit pulang, keliatan buru-buru dan agak panit. I can tell.”

Satu sudut bibir gue terangkat, tahu jelas kemana obrolan ini mengalir. “Dan lo nggak denger bunyi lift padahal Shaf pamit pulang. I see. Dia ke kamar Sachi, karena kamar mereka satu lantai.”

Smart ass.

Gue dan sepupu-sepupu gue selalu terbuka akan satu sama lain, which made us a bad liar when it comes to each other. Di antara kami bersembilan, Terra adalah salah satu orang yang sulit untuk nggak berkata jujur padanya kalau kami berbicara, karena perbedaan umur kami yang nggak terlalu jauh, dibanyak kesempatan gue selalu menyempatkan diri untuk sekedar singgah ke rumahnya dan membahas apa pun yang kami ingin bahas. Kadang kalau Kaia sedang ada di Jakarta, dia akan senang hati bergabung dan menyampaikan sudut pandang dari sisinya sebagai perempuan, walaupun obrolan kami kerap kali berakhir dengan perdebatan dan sumpah serapah.

I kissed her.” See, it’s hard to hide everything when it comes to him — and the others. “I kissed her and left.

Not literary left, right?” Terra tertawa, tawa sinis yang membuat gue kesal. “Jan, you wouldn’t do such a thing.

And he was right.

Gue terkekeh sembari menghembuskan asap rokok dari dalam mulut. “Gue nggak mau bikin suasana makin nggak enak, karena gue tau dia pasti udah ngerasa, jadi gue cabut pas dia lagi mandi.”

Go on,” lanjutnya sambil menghisap puntung rokoknya dalam-dalam, dan menghembuskan asapnya keluar dari dalam mulut seiring dengan ucapan, “I’d love to hear more.

“Gue cek jadwal kereta api hari itu, sayangnya sisa jam malam. Ain’t no way she will take it. Jadi gue cek travel terdekat, ada di Cihampelas, gue make sure dulu kontak mereka dan masih ada sisa satu, langsung gue booking dan bayar. Info ke resepsionis buat kasih tau kalo ada perempuan yang tanya soal travel, saranin ke Ciwalk aja karena bisa beli di tempat.”

Terra berdecak setelah mendengar penjelasan cukup panjang dari mulut gue. Satu tangannya ia keluarkan ke luar jendela guna membuang abu rokok yang terlah setengah terbakar. Gue tahu kalau ia tahu bahwa gue tengah mempertimbangkan banyak hal. Di antara kami bersembilan, Terra memiliki emosi yang paling stabil dalam urusan percintaan, walaupun ia tetap sama bodohnya dengan yang lain- termasuk gue, namun beberapa hal patut gue acungi jempol.

“Kailan,” ujar Terra yang membuat gue mengerutkan dahi. “Lo sama kayak Kailan, well, sama kayak kita semua, sih.”

Gue mengangguk paham akan pembahasan dan alasan kenapa Terra menyamakan gue dan Kailan. Sepupu gue yang satu itu memang terkenal – at least di antara kami, sebagai sosok yang berpikir bahwa semua orang setuju akan langkah yang ia ambil, terdengar familiar, kan? Karena benar adanya, bahwa gue dan Kailan memiliki kesamaan dalam pola pikir tersebut.

“Setuju.” Memang gue bisa mengelak dengan cara apalagi selain membenarkan perlakuan gue?

“Sebenernya gue nggak perlu denger lanjutannya,” Terra terkekeh. “Udah kebaca. But please, go on.

“Ya gitu,” Kali ini gue yang tertawa. “Gue ke Ciwalk dan beli kebab favorit dia, terus gue masukin ke kotak, sekalian gue tambahin roti dan cold-pressed juice favorit dia juga.”

“Dan lo tunggu travel dia jalan dari pinggir Ciwalk, dan lo ikutin travel dia dari belakang, dan lo juga jagain dia sampai pulang – to make sure she’s okey without her knowing.” potong Terra yang langsung gue benarkan. “That’s something Janitra would do.

That’s, that’s.

Nggak berapa lama setelah gue dan Terra menghabiskan rokok kedua kami, ponselnya berdering, nama Ariella tertera di layar.

“Gue ke atas ya,” pamit Terra pada akhirnya. “Balik ke rumah Oma aja, kalo Sabian nggak jadi jemput Kaia, lo aja sama Akar.”

Thanks, Ter.” Gue memukul pelan bahunya yang ditanggapi, lagi-lagi, oleh kekehan.

Gue kembali berdiam di balik kemudi, menimbang-nimbang untuk menginjak pedal gas atau tetap berdiam diri memerhatikan lampu kamar yang masih belum padam di atas sana. Pukul dua belas kurang tiga menit, gue memutuskan untuk keluar dan membeli satu kotak rokok di minimarket 24 jam milik apartemen ini.

“Ini aja, Mas?” Gue mengangguk saat pelayan kasir mengkonfirmasi barang yang gue beli sebelum menyelesaikan pembayaran dan mendorong pintu serta berjalan balik menuju parkiran.

Naas, saat gue mencoba melangkah keluar tanpa memperhatikan jalan, seseorang menubruk badan gue yang membuat ia jatuh pada detik berikutnya.

Sorry,” Gue refleks berjongkok dan mendekatkan diri ke arah sosok perempuan –

“Gapapa, gapapa.”

Tangan gue yang terangkat di udara seketika berhenti setelah mendengar suara dari sosok di hadapan gue.

“Sach?” panggil gue lirih.

Ia menyibakan rambut panjangnya yang sedari tadi menutupi pandangan dan wajahnya.

Benar, sosok perempuan di hadapan gue adalah Sachi.

Extra chapter available on : karyakarsa(dot)com(slash)paperlinesz(slash)lavender-burning

a lie by noon

“Hey,” sapanya dengan senyum saat aku memasuki mobil miliknya. “Lama nggak nunggunya?”

Aku menggeleng seraya memasang sabuk pengaman, sebelum akhirnya menoleh sepenuhnya ke arah laki-laki di sebelahku. Janitra, dengan sweater abu-abu bertuliskan salah satu institusi pendidikan ternama di Amerika – which he went to, menyisir rambutnya yang sudah panjang dengan jari-jari tangannya yang bebas dari kemudi. Aroma cedar wood seketika memenuhi indera penciumanku. He is indeed God’s favorite.

“Acara apa di rumah Rakagi?” tanyaku saat mobilnya sudah berjalan menyusuri jalan Dago.

“Ami ulang tahun,” jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari jalan. “Ibunya Rakagi.”

Aku hanya manggut-manggut dan memutuskan untuk menikmati jalanan di luar kaca mobil. Bandung sore ini terlihat lebih ramai dari hari kemarin, atau mungkin karena aku terlalu lama menghabiskan waktu di dalam ruang meeting dua hari ini dan nggak memiliki kesempatan untuk menikmati kota yang diromantisasi banyak orang.

How was the project?” Janitra kembali membuka suara, membuatku kembali menoleh ke arahnya.

Aku mengangkat kedua bahu. “I’ve done my best, semoga presentasi gue tiga hari ini cukup untuk bikin client tanda tangan.”

You’ll ace it,” Ia mengulurkan tangan kirinya dan menepuk pelan sisi kanan bahuku. “You’ll always ace it.

Hubunganku dan Janitra nggak se-spesial it, kalau kalian ingin tahu. Kami hanya bertemu satu atau dua kali dalam kurun waktu satu bulan, itu pun sering kali dalam kesempatan yang nggak terduga. Seperti saat aku dan Ariella memutuskan untuk menikmati tequila di salah satu bar favorit kami di Senopati, ada Janitra di sana – yang tentu saja dengan salah satu perempuan yang wajahnya kerap kali muncul di laman Instagram majalan papan atas ibu kota. Bukan hal yang mengejutkan melihat Janitra dikelilingi perempuan-perempuan, justru kalau mendapati dirinya seorang dirilah yang membuatku bertanya-tanya, seperti beberapa waktu lalu saat kudapati dirinya duduk seorang diri di sudut ruangan salah satu bar di Sudirman – yang membuat kami sedikit lebih sering bertemu setelahnya.

“Yang enak di sini apa, Jan?” tanyaku sambil membolak-balik buku menu saat kami sudah berada di salah satu kursi di area outdoor Lawangwangi.

“Enak dilihat? Gue.” jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari buku menu.

Aku memutar kedua bola mataku. “Enak dimakan.”

“Gue juga.”

Akhirnya aku mendongak seiring laki-laki di hadapanku yang ikut mendongak dan terkekeh.

“Ini kayaknya enak,” Janitra mengarahkan jarinya ke salah satu menu. “Mau coba nggak?”

Aku tahu Janitra gemar mencoba hal baru – secara harfiah dan kiasan, berbanding terbalik denganku yang lebih memilih pilihan aman dalam segala kondisi dan situasi. Jadi, aku memutuskan untuk mengarahkan jariku ke salah satu menu pasta di sana. “Gue ini aja deh, Jan.”

“Payah,” decaknya kecewa mengetahui aku, yang lagi-lagi, tetap di zona nyamanku. “Gini deh, lo pilih buat gue, gue pilih buat lo. Okey?”

Aku menimbang-nimbang tawaran Janitra. Laki-laki di hadapanku ini memang membuat segalanya rumit dengan menjadikannya pilihan. Ini kali kedua setelah pertemuan kami di bar satu bulan lalu, kala ia mengernyitkan dahi melihat aku yang dua kali menikmati tequila favoritku tanpa mengubah pesanan setelah menandaskan gelas pertama, yang kemudian membuat Janitra menawarkan untuk memesan salah satu racikan bartender – which I realy love, tanpa rasa menyesal karena sudah mengiyakan tawarannya.

Okey, deal.

Setelah menunggu setengah jam, makanan kami datang. Aku dapat melihat jelas seringai Janitra saat satu piring Penne Creamy Spinach dengan shrimp dan irisan beef bacon terhidang di hadapanku.

Not so bad.” Aku mengangguk-angguk melihat hidangan di hadapanku yang menggugah selera, membuat perutku seketika nggak sabar untuk menyantapnya.

“Ini juga lumayan,” Janitra memutar satu piring Nasi Bali lengkap dengan sate lilit di hadapannya. “Looks good.

Kami menikmati makan siang yang sudah terlalu jauh dari jadwal dengan suara canda tawa anak-anak muda di berbagai sudut Lawangwangi. Seperti lima perempuan yang duduk di sebelah kami, yang kutaksir usianya baru menginjak 18 tahun, yang membicarakan hubungan nggak jelas yang akan mereka hadapi setelah lulus SMA – membuat Janitra terkekeh akan polemik hidup anak muda yang hanya sebatas jarak dengan sang pujaan hati. Atau salah satu pasangan yang enggan bertukar tempat di salah satu spot foto utama cafe ini, yang aku dan Janitra asumsikan hasil fotonya belum memenuhi ekspektasi mereka untuk diunggah di laman media sosial keduanya, membuat geram beberapa orang yang sudah sedari tadi menunggu giliran mereka.

“Yuk,” Janitra bangkit dari kursinya saat menyadari langit yang sudah berubah menjadi jingga. “Takut macet.”

“Thank you,” ucapku saat Janitra terlebih dahulu mebayar tagihan pesanan kami sore ini. “I’ll treat you next time.

There will be a next time, huh?” seringainya kembali muncul saat ia memasukan kartunya ke dalam dompet.

If you’re lucky enough.

I’m always lucky, though.

Lagi-lagi aku memutarf kedua bola mataku kesal seraya merapatka cardiganku. Entah mengapa Bandung selalu lebih dingin saat malam menyapa.

Janitra menginjak pedal gas menuju arah Pasteur saat hujan perlahan turun membasahi jalanan yang kami lewati. Sedari masuk mobil tadi, aku dan Janitra sama-sama nggak mencoba memulai obrolan, pun sudah bukan hal aneh kalau kami hanya berdiam diri dengan isi pikiran masing-masing.

“Macet banget sial,” umpat Janitra melihat deretan mobil yang nggak bergerak di hadapannya. “Laper lagi.”

Aku menoleh ke arahnya dengan wajah terkejut. “Lo tadi makan satu piring ditambah punya gue gila.”

“Kalo hujan dan macet kan bawaannya laper, Sach.”

Aku hanya menggelengkan kepala nggak percaya atas kapasitas perut laki-laki satu ini. sialnya, nggak berapa lama kemudian, perutku ikut berbunyi, yang mengakibatkan Janitra meledekku habis-habisan.

“Pada puter balik masa, Jan.” bisikku saat kami masih di tempat yang sama selama hampir satu jam. “Masuk tol aja belum ini.”

“Lebih pilih buat extend kayaknya mereka,” sambungnya asal. “Extend juga apa kita, Sach?”

“Yuk.”

Aku rasa aku sudah gila? Atau berada bersama Janitra membuatku gila? Atau memang nyatanya aku nggak pernah waras? Entahlah.

“Kalo ke arah hotel lo tadi, kayaknya sama aja macetnya.” Janitra membelokan kemudi mobilnya ke arah jalan lain yang tadi nggak kita lewati. “Coba cek ke Riau aja kali ya?”

Ini kali pertama aku menghabiskan waktu dengan Janitra di luar bar atau tempat remang-remang lainnya di Jakarta, kali pertama aku akan menghabiskan satu malam dengannya secara sadar, nggak dengan aku yang limbung nggak sadarkan diri di ujung malam. Namun entah mengapa, aku percaya dengannya, aku percaya kemana ia membawa laju mobilnya untuk kami menemukan tempat beristirahat malam ini. Aku percaya Janitra, terlepas dari perlakuan buruk yang selalu aku dengar dari banyak orang tentang betapa mengerikannya berada di sisi laki-laki dengan tinggi menjulang tersebut.

Let’s go,” Ia menarik rem tangan mobilnya saat kami sudah berada di basement salah satu hotel bintang 4 di jalan Riau. “Semoga ada kamar kosong.”

Entah dewi fortuna sedang berpihak padaku – pada kami, secara kebetulan