paperlinesz

Happy Birthday, Keiramina. With love, Riahis.

Like I said, Keiramina loves surprises and fireworks.

Maka dari itu gue memutuskan untuk merayakan hari ulang tahunnya kali ini dengan sedikit lebih istimewa dari sekedar makan malam dan sebuah hadiah serta satu buket bunga, seperti tahun-tahun sebelumnya.

Kalau biasanya gue akan berada di sisinya tepat saat jam menunjukan pukul dua belas malam, malam tadi Keiramina harus menemani Mimam terbang ke Singapura yang membuat gue hanya bisa mendengar suaranya melalui sambungan telepon.

“Happy birthday, Keiramina.” ucap gue begitu panggilan telepon kami terhubung.

Gue mendengar dirinya mendengus di ujung sana.

“Kenapa?” tanya gue sambil terkekeh.

“I expect a fifteen minutes speech.” jawabnya kecewa dengan dahi yang sedikit berkerut, membuat gue terkekeh.

“No,”

“Wha – “

“You deserve more.” Nggak ada satu patah kata pun keluar dari mulutnya lagi. “Kamu besok landing jam delapan pagi jadi aku jemput sore aja ya? Sekitar jam lima? Nggak capek kan?”

“Nggak capek. Jam lima. Iya.”

Gue tahu dirinya tengah salah tingkah di ujung telepon, maka dari itu gue memutuskan untuk menyudahi obrolan kami dengan mengucapkan selamat ulang tahun sebelum akhirnya mengakhiri panggilan.

“Woi!” sebuah tepukan pelan berhasil membuyarkan lamunan gue. “Ngapain bengong di tangga.”

Gue menoleh dan mendapati Akarsana dengan baju putih polosnya yang penuh cat serta tangannya yang menggenggam berbagai macam kuas. “Kak Terra udah mulai?”

“Udah,” jawabnya sembari menuruni tangga, diikutin dengan gue di belakangnya. “Kak Kafka juga udah deket.”

Gue hanya mengangguk dan membiarkan Akarsana berjalan menuju halaman belakang rumah Oma, bergabung dengan Kak Terra yang tengah sibuk membuat salah satu dari sekian banyak kejutan untuk Keiramina hari ini.

Pandangan gue beralih ke ruang tengah yang dipenuhi suara teriakan dari dua orang yang tengah memasang dekorasi. Benar, hanya dua orang, namun kebisingannya seakan ada tiga kali lipat.

“Janitra mending lo minggir, gue nggak kelihatan.”

“Ya, pita silver harusnya di kanan bukan di kiri. Nggak becus lo ah.”

“Kagiiii! Janitra nih!”

Gue hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat dua kakak sepupu gue – Kaia dan Janitra, yang nggak berhenti mengganggu satu sama lain tanpa lelah. Membuat Kagi, yang tengah fokus dengan website salah satu wedding consultant ternama di Indonesia, meletakkan iPad serta melepaskan kacamatanya.

“Jan,” Kak Janitra yang sudah siap melemparkan perempuan di sebelahnya dengan balon, seketika mendengus pelan, membuat Kak Kaia tertawa puas dan menjulurkan lidahnya. “Tuh, Kama dateng, tuh.”

Sebelum gue sempat memproses kalimat Kagi, kedua orang tersebut sudah terlebih dahulu berlari menuju pintu depan. Detik setelahnya gue tersadar dan ikut berlari untuk menyambut sosok yang menjadi kesayangan kami dalam satu tahun terakhir.

Mobil sedan berwarna hitam yang baru saja terparkir rapih di antara mobil-mobil lain seketika di serbu dari segala arah. Ada Kak Janitra dan Kak Kaia serta gue dari pintu utama. Akarsana, Nebraska, dan Asa dengan baju penuh cat, tiba-tiba saja muncul dari pintu garasi yang tersambung dari halaman belakang.

“Pelan-pelan,” ujar Kak Kafka begitu melihat anak laki-lakinya dikerubungi oleh kami. “Nanti lecet.”

Bayi laki-laki berumur delapan bulan yang semula berada digendongan sang Ibu, dengan cepat berpindah ke pelukan Kak Kaia, membuatnya sedikit merengek kaget namun segera teratasi dengan candaan orang-orang di sekelilingnya.

Gue melihat Oma yang tengah berjalan menghampiri kerumunan kecil kami dengan bantuan tongkat kayu di tangan kirinya serta Kak Terra yang merangkul perempuan paruh baya tersebut di lengan kanannya. Dengan mata kelabu yang bersinar, Oma merentangkan kedua tangannya, bersiap menyambut cicit pertamanya ke pelukan.

Kak Kaia mendekatkan bayi laki-laki dalam dekapannya ke arah Oma dengan sedikit membungkuk lantaran tubuh tingginya yang menjulang. “Kama mirip Kak Kafka banget ya, Oma?”

Oma mengangguk dan mengalihkan pandangannya pada Kak Kafka yang tengah merangkul sang istri, keduanya terkekeh lantaran pernyataan yang kerap kali mereka terima sejak Kama lahir ke dunia, walaupun benar adanya kalau anak laki-laki dengan pipi tembam yang tengah tertawa melihat baju Kak Terra yang dipenuhi cat tersebut sangatlah serupa dengan sang ayah.

“Yang lain mana?” Oma menatap kami satu per satu. “Anaya? Embun? Ariella?”

Akarsana yang berada di sebelah gue seketika berdehem cukup keras, membuat gue dan Nebraska tertawa paham akan tingkahnya yang satu ini.

“Yuk, balik lagi yuk,” Akarsana tersenyum pahit sembari membalikan badan. “Balik kerja yuk udah jam tiga yuk keburu Keiramina dateng yuk.”

Gue dan yang lainnya hanya bisa tertawa mendengar alibi yang keluar dari mulut laki-laki bercelana pendek tersebut.

“Anaya masih di Bangkok, Oma.” jawab Kagi sembari membetulkan letak kacamatanya. “Kalo Embun di mana, Kar?”

“Di pelukan cowok lain!”

Gue refleks membalikan badan dan terbahak ketika mendengar jawaban Akarsana yang setengah berteriak, begitu pun yang lainnya. Sepupu gue yang satu itu, kisah cintanya nggak seindah parasnya.

“Kai,” panggil Kak Terra. “Udah 90%, mau lihat nggak?”

Satu sudut bibir gue terangkat, diikuti anggukan serta perasaan membuncah yang belum bisa gue jabarkan.

Kemarin sore saat gue dan Nebraska tengah merokok di balkon apartemen gue, ada satu hal yang kami bahas, yaitu nama. Sedari awal gue mengetahui nama lengkap Keiramina, sejak itu pula gue nggak pernah berhenti memanggil dirinya dengan nama lengkap, bukan karena menghindari panggilan yang sama dengan Keizyalara, namun, namanya terlalu cantik untuk nggak diucapkan dengan lengkap. Dari pikiran itu, Nebraska memberika satu ide yang gue pikir cukup layak untuk dijadikan sebuah hadiah yang sedikit berbeda.

“Karena lo suka sama nama dia, kenapa nggak lo minta tolong Kak Terra atau Kak Kafka bikin painting wajah dia dari namanya?” ujar Nebraska kala itu. “Paham kan maksud gue?”

Saat itu juga gue langsung menghubungi keduanya untuk menyampaikan keinginan gue akan ide buah hasil pemikiran Nebraska, yang dengan mudahnya di-iya-kan keduanya.

“Gimana?” tanya Kak Terra sewaktu kami berdiri di depan kanvas berukuran setengah badan gue. “Ada yang mau ditambahin lagi nggak?”

“Mau lo tambahin apa lagi emang, Kak?” gue terkekeh sembari menoleh ke arahnya. “Ini juga udah lebih dari cukup.”

Setelah menepuk pundak gue, Kak Terra beranjak dari tempat ia berdiri dan meninggalkan gue seorang diri di dalam bengkel melukisnya yang berada di sudut halaman belakang rumah Oma, tentu saja dengan gue yang masih terkagum-kagum akan hasil dari jari-jari mahirnya, dan hasil koreksi serta modifikasi oleh Kak Kafka.

Gue melipat kedua tangan di depan dada, mengamati wajah Keiramina yang tengah bertopang dagu secara di atas kanvas. Kadang gue maju satu langkah lebih dekat guna mengamati tulisan namanya yang menjadi kerangka dari keseluruhan lukisan, bagian ini hasil jerih payah Kak Kafka yang menghabiskan satu hari penuh di dalam bengkel. Gue nggak henti-hentinya bersyukur memiliki mereka, yang tanpa banyak pertmbangan akan dengan senang hati membantu – dalam segala urusan. Terlebih hari ini, ulang tahun Keiramina terakhir sebagai kekasih gue, karena kalau semua berjalan dengan lancar, musim panas tahun depan – persis sebelum hari ulang tahunnya, gue akan meminta dia untuk menikmati matahari terbenam di seluruh pejuru dunia, bersama, selamanya.

Terdengar menggelikan namun itulah kenyataannya.

“Kai,” Gue menoleh saat seseorang memanggil nama gue, mendapati Akarsana dengan wajah penuh konfeti dan glitter yang tengah menyengir lebar. “All done.”

Gue berjalan keluar dari bengkel dan kembali masuk melalui pintu halaman belakang rumah Oma, yang langsung disuguhi dekorasi sederhana nan cantik hasil kreasi kedua kakak sepupu gue yang tengah memasang wajah bangga di tengah ruangan, membuat gue mengacungkan kedua ibu jari tinggi-tinggi ke udara guna mengapresiasi hasil kerja keras mereka. Setelahnya gue meminta izin untuk menjemput Keiramina dan memberi waktu pada semua orang untuk bersiap-siap.


“Here comes the birthday girl,” Gue menghadiahi Keiramina pelukan singkat dan satu kecupan kecil di ujung bibirnya. “Happy birthday, Sayang.”

Keiramina menyibakkan seluruh rambut panjangnya kebelakang sebelum menarikku kembali ke dalam pelukan sembari berkata, “I miss you so much you don’t understand.”

Sepanjang perjalanan dari rumahnya menuju rumah Oma ia habiskan dengan menceritakan segala yang ia temui dan lakukan selama kurang lebih satu minggu kami nggak bertemu. Di mulai dari dirinya yang mengkonsumsi salad sayur tiga hari berturut-turut yang ia beli di sebelah hotel tempatnya menginap, hingga Mimam yang selalu mengajaknya ke SkyPark di sore hari. Keiramina juga nggak lupa membawa satu tas besar berisi buah tangan yang ia belikan untuk sepupu-sepupu gue, Oma, Ami dan Ayah, bahkan seluruh orang yang bekerja di rumah Oma.

Gue menghela napas lega saat mendapati mobil-mobil yang semula terparkir berantakan di halaman rumah Oma kini sudah menghilang masuk ke dalam garasi, Yasaskara did a great job. Lagipula gue nggak mau terlalu kelihatan jelas kalau akan ada acara kejutan untuk Keiramina hari ini.

“Oleh-olehnya biar di mobil aja, nanti minta tolong Pak Niam bawa masuk.” Gue mengulurkan tangan ke arah Keiramina yang dengan cepat ia amit sebelum gue bubuhin satu kecupan di punggung tangannya, membuat kedua pipinya bersemu merah.

Gue membiarkan Keiramina berjalan terlebih dahulu ke ruang tengah, seperti rencana utama, dan gue beberapa langkah di belakangnya karena harus menutup pintu utama.

“SURPRISE!”

“HAPPY BIRTHDAY, KEIRAMINA!”

“HAPPY BIRTHDAY, KIYA!”

Gue nggak bisa melihat ekspresi Keiramina, namun yang gue tahu pasti, kedua tangannya membekap mulut serta wajahnya yang bersemu semakin merah. Alih-alih berdiam diri memproses semuanya, perempuan cantik gue berseru kegirangan saat sadar ada sosok Kami si bayi kecil yang berada di antara kami, membuat dirinya semakin melompat dengan senang kala Kak Janitra mengayunkan Kama di gendongan Kak Janitra.

Hati gue menghangat melihat pemandangan ini, walaupun sangat disayangkan Ami dan Ayah serta Mimam, Pipap dan Abang nggak bisa hadir dikarenakan urusan penting masing-masing. Gue merangkul pinggulnya dan membawa ia mendekat ke meja dengan birthday cake yang sudah kami persiapkan, diikuti suara teriakan menggemaskan Kama saat melihat ornamen di sekitarnya yang berbeda dari biasanya. Setelah ia berhasil meniup api pada lilin yang entah sudah berapa kali ia coba lenyapkan dan sibuk memotong birthday cake-nya, gue dan Kak Terra berjalan mengendap-endap menuju bengkel tempat lukisan Keiramina disimpan.

“Hope she likes it.” ucap Kak Terra di saat kami melangkah masuk dan membuat semua orang terkejut.

“Happy birthday from us,” Gue melirik kanvas besar di sebelah gue dan Keiramina yang masih diam mematung secara bergantian. “Sini, buka.”

Keiramina mendekat ke arah kanvas yang masih ditutupi kain putih, beberapa kali ia menyapukan pandangannya ke setiap sosok yang berada di ruangan, yang tentu saja mereka tanggapi dengan senyuman. Setelah bertanya melalui sorot mata yang gue jawab dengan anggukan, Keiramina membuka kain putih tersebut dengan perlahan, detik berikutnya ia hanya mampu terdiam dengan kedua tangan membekap mulutnya.

“Thank you semuanya,” Keiramina nggak bisa lagi membendung air mata suka citanya. “I feel loved. Thank you.”

“Anything for our girl.” jawab Kak Kafka yang langusng disetujui oleh semuanya.

Gue membiarkan Keiramina bermain dengan Kama dan Ibunya serta Kak Kaia, selagi gue dan yang lain merokok di halaman belakang. Sesekali gue mencuri pandang ke dirinya yang tengah tertawa lantaran sosok Kama yang sudah dua minggu lamanya ia perbincangkan secara terus menerus akibat Kak Kafka yang selalu berhalangan hadir saat kami menghabiskan akhir pekan di kediaman Oma.

“Kai,” panggil Kak Kaia dari dalam. “Temenin nih Keiramina, kalo hilang susah carinya. Gue mau bawa Kama ke kamar atas.”

Gue tertawa sembari bangkit dari kursi dan melangkah masuk menghampiri Keiramina yang tengah berpamitan dengan Kama yang sudah mulai rewel.

“Kailan,” bisik Keiramina dengan sorot mata sayu yang masih nampak basah karena sisa air mata saat kami sudah berada di sofa ruang tengah. “Aku nggak tahu lagi harus bilang apa selain terima kasih. Ke semuanya.”

“Anything for our girl,” Gue kembali mengutip kalimat Kak Kafka. “Anything for my girl. Kak Terra sama Kak Kafka sampe nggak tidur bikin itu.”

“Oh ya?” Keiramina menatap gue dengan satu sudut bibirnya yang terangkat. “Kamu nggak ikutan bikin kalau malam?”

Gue menggeleng. Lagipula dua manusia itu hanya bisa bekerja dengan serius di malam hari dan nggak ingin diganggu oleh siapa pun. Jadi gue dan yang lainnya hanya membantu saat matahari sudah terbit.

“Berarti kamu harus gantian dibikin nggak tidur malam ini.”

“That,” Gue bangkit dari kursi. “Is something I look forward to.”

Dengan satu gerakan cepat gue menarik Keiramina agar bangkit dari kursi dan berjalan menuju pintu utama setelah berpamitan singkat kepada para sepupu yang tentu saja mereka tanggapi dengan tawa dan anggukan serta ucapan hati-hati.

Extra chapter available on : karyakarsa(dot)com(slash)paperlinesz(slash)i-love-you-i-mean-it

Devil Doesn't Bargain

Buat gue pribadi, hidup di dunia tanpa berbuat baik ibaratan ke bar tanpa menikmati alkohol. Konyol, sih, tapi balik lagi, ada banyak macam alkohol yang tersedia, bahkan setiap negara punya ciri khasnya masing-masing, sama halnya dengan kebaikan. Jadi, nggak semua orang yang ke bar untuk meminum alkohol, ada yang pesan koktail, minuman bersoda, bahkan air mineral, berbanding lurus dengan kebaikan yang manusia tunjukan — nggak semua orang bisa terima, justru banyak yang disalah artikan, membuat sebagian memutuskan membenci seseorang hanya karena perbedaan persepsi atas arti luas kebaikan itu sendiri.

Gue melihat lampu apartemen Sachi yang sudah menyala, setelah hampir setengah jam menunggu di parkiran bawah gedung dua puluh sembilan lantai ini. Ada sedikit kelegaan pada napas gue setelah melihat pesan singkat yang baru saja gue kirimkan terbaca olehnya, walaupun pada menit berikutnya gambar profil miliknya kosong.

Gue diblok.

Suara ketukan pada kaca jendela seakan menarik gue kembali ke dunia nyata. alih-alih menurunkan kaca, gue memilih untuk membuka kunci pintu agar sosok yang tengah berdiri di sebelah mobil gue bisa segera masuk.

Terra hanya terkekeh begitu duduk di kursi penumpang, gue jelas tahu kalau ia tahu. He’s one of the smartest in the family. Jadi gue hanya bisa ikut terkekeh dan menggeleng.

“So?” tanyanya dengan ambigu sembari mematikan ac mobil dan mengeluarkan satu kotak rokok dari saku celana pendeknya. “Congratulation on breaking someone’s heart for God-only-knows how many times.”

“Well,” Gue mengangkat kedua bahu. “Thank you?”

“Orang gila.” ucapnya sembari melempar kotak rokok yang dengan sigap gue tangkap dan keluarkan satu isinya sebelum menurunkan kedua kaca depan agar asap rokok kami berdua nggak mengepul di dalam mobil.

“Lo tau kan kamar cewek gue nggak jauh dari lift?” Gue mengangguk sembari menghembuskan asap dari nikotin yang gue hisap. “Tadi gue di kamar Lele ada gue sama Shaf. Nggak lama dia pamit pulang, keliatan buru-buru dan agak panit. I can tell.”

Satu sudut bibir gue terangkat, tahu jelas kemana obrolan ini mengalir. “Dan lo nggak denger bunyi lift padahal Shaf pamit pulang. I see. Dia ke kamar Sachi, karena kamar mereka satu lantai.”

“Smart ass.”

Gue dan sepupu-sepupu gue selalu terbuka akan satu sama lain, which made us a bad liar when it comes to each other. Di antara kami bersembilan, Terra adalah salah satu orang yang sulit untuk nggak berkata jujur padanya kalau kami berbicara, karena perbedaan umur kami yang nggak terlalu jauh, dibanyak kesempatan gue selalu menyempatkan diri untuk sekedar singgah ke rumahnya dan membahas apa pun yang kami ingin bahas. Kadang kalau Kaia sedang ada di Jakarta, dia akan senang hati bergabung dan menyampaikan sudut pandang dari sisinya sebagai perempuan, walaupun obrolan kami kerap kali berakhir dengan perdebatan dan sumpah serapah.

“I kissed her.” See, it’s hard to hide everything when it comes to him — and the others. “I kissed her and left.”

“Not literary left, right?” Terra tertawa, tawa sinis yang membuat gue kesal. “Jan, you wouldn’t do such a thing.”

And he was right.

Gue terkekeh sembari menghembuskan asap rokok dari dalam mulut. “Gue nggak mau bikin suasana makin nggak enak, karena gue tau dia pasti udah ngerasa, jadi gue cabut pas dia lagi mandi.”

“Go on,” lanjutnya sambil menghisap puntung rokoknya dalam-dalam, dan menghembuskan asapnya keluar dari dalam mulut seiring dengan ucapan, “I’d love to hear more.”

“Gue cek jadwal kereta api hari itu, sayangnya sisa jam malam. Ain’t no way she will take it. Jadi gue cek travel terdekat, ada di Cihampelas, gue make sure dulu kontak mereka dan masih ada sisa satu, langsung gue booking dan bayar. Info ke resepsionis buat kasih tau kalo ada perempuan yang tanya soal travel, saranin ke Ciwalk aja karena bisa beli di tempat.”

Terra berdecak setelah mendengar penjelasan cukup panjang dari mulut gue. Satu tangannya ia keluarkan ke luar jendela guna membuang abu rokok yang terlah setengah terbakar. Gue tahu kalau ia tahu bahwa gue tengah mempertimbangkan banyak hal. Di antara kami bersembilan, Terra memiliki emosi yang paling stabil dalam urusan percintaan, walaupun ia tetap sama bodohnya dengan yang lain- termasuk gue, namun beberapa hal patut gue acungi jempol.

“Kailan,” ujar Terra yang membuat gue mengerutkan dahi. “Lo sama kayak Kailan, well, sama kayak kita semua, sih.”

Gue mengangguk paham akan pembahasan dan alasan kenapa Terra menyamakan gue dan Kailan. Sepupu gue yang satu itu memang terkenal – at least di antara kami, sebagai sosok yang berpikir bahwa semua orang setuju akan langkah yang ia ambil, terdengar familiar, kan? Karena benar adanya, bahwa gue dan Kailan memiliki kesamaan dalam pola pikir tersebut.

“Setuju.” Memang gue bisa mengelak dengan cara apalagi selain membenarkan perlakuan gue?

“Sebenernya gue nggak perlu denger lanjutannya,” Terra terkekeh. “Udah kebaca. But please, go on.”

“Ya gitu,” Kali ini gue yang tertawa. “Gue ke Ciwalk dan beli kebab favorit dia, terus gue masukin ke kotak, sekalian gue tambahin roti dan cold-pressed juice favorit dia juga.”

“Dan lo tunggu travel dia jalan dari pinggir Ciwalk, dan lo ikutin travel dia dari belakang, dan lo juga jagain dia sampai pulang – to make sure she’s okey without her knowing.” potong Terra yang langsung gue benarkan. “That’s something Janitra would do.”

“That’s, that’s.”

Nggak berapa lama setelah gue dan Terra menghabiskan rokok kedua kami, ponselnya berdering, nama Ariella tertera di layar.

“Gue ke atas ya,” pamit Terra pada akhirnya. “Balik ke rumah Oma aja, kalo Sabian nggak jadi jemput Kaia, lo aja sama Akar.”

“Thanks, Ter.” Gue memukul pelan bahunya yang ditanggapi, lagi-lagi, oleh kekehan.

Gue kembali berdiam di balik kemudi, menimbang-nimbang untuk menginjak pedal gas atau tetap berdiam diri memerhatikan lampu kamar yang masih belum padam di atas sana. Pukul dua belas kurang tiga menit, gue memutuskan untuk keluar dan membeli satu kotak rokok di minimarket 24 jam milik apartemen ini.

“Ini aja, Mas?” Gue mengangguk saat pelayan kasir mengkonfirmasi barang yang gue beli sebelum menyelesaikan pembayaran dan mendorong pintu serta berjalan balik menuju parkiran.

Naas, saat gue mencoba melangkah keluar tanpa memperhatikan jalan, seseorang menubruk badan gue yang membuat ia jatuh pada detik berikutnya.

“Sorry,” Gue refleks berjongkok dan mendekatkan diri ke arah sosok perempuan –

“Gapapa, gapapa.”

Tangan gue yang terangkat di udara seketika berhenti setelah mendengar suara dari sosok di hadapan gue.

“Sach?” panggil gue lirih.

Ia menyibakan rambut panjangnya yang sedari tadi menutupi pandangan dan wajahnya.

Benar, sosok perempuan di hadapan gue adalah Sachi.

Extra chapter available on : karyakarsa(dot)com(slash)paperlinesz(slash)lavender-burning

a lie by noon

“Hey,” sapanya dengan senyum saat aku memasuki mobil miliknya. “Lama nggak nunggunya?”

Aku menggeleng seraya memasang sabuk pengaman, sebelum akhirnya menoleh sepenuhnya ke arah laki-laki di sebelahku. Janitra, dengan sweater abu-abu bertuliskan salah satu institusi pendidikan ternama di Amerika – which he went to, menyisir rambutnya yang sudah panjang dengan jari-jari tangannya yang bebas dari kemudi. Aroma cedar wood seketika memenuhi indera penciumanku. He is indeed God’s favorite.

“Acara apa di rumah Rakagi?” tanyaku saat mobilnya sudah berjalan menyusuri jalan Dago.

“Ami ulang tahun,” jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari jalan. “Ibunya Rakagi.”

Aku hanya manggut-manggut dan memutuskan untuk menikmati jalanan di luar kaca mobil. Bandung sore ini terlihat lebih ramai dari hari kemarin, atau mungkin karena aku terlalu lama menghabiskan waktu di dalam ruang meeting dua hari ini dan nggak memiliki kesempatan untuk menikmati kota yang diromantisasi banyak orang.

“How was the project?” Janitra kembali membuka suara, membuatku kembali menoleh ke arahnya.

Aku mengangkat kedua bahu. “I’ve done my best, semoga presentasi gue tiga hari ini cukup untuk bikin client tanda tangan.”

“You’ll ace it,” Ia mengulurkan tangan kirinya dan menepuk pelan sisi kanan bahuku. “You’ll always ace it.”

Hubunganku dan Janitra nggak se-spesial it, kalau kalian ingin tahu. Kami hanya bertemu satu atau dua kali dalam kurun waktu satu bulan, itu pun sering kali dalam kesempatan yang nggak terduga. Seperti saat aku dan Ariella memutuskan untuk menikmati tequila di salah satu bar favorit kami di Senopati, ada Janitra di sana – yang tentu saja dengan salah satu perempuan yang wajahnya kerap kali muncul di laman Instagram majalan papan atas ibu kota. Bukan hal yang mengejutkan melihat Janitra dikelilingi perempuan-perempuan, justru kalau mendapati dirinya seorang dirilah yang membuatku bertanya-tanya, seperti beberapa waktu lalu saat kudapati dirinya duduk seorang diri di sudut ruangan salah satu bar di Sudirman – yang membuat kami sedikit lebih sering bertemu setelahnya.

“Yang enak di sini apa, Jan?” tanyaku sambil membolak-balik buku menu saat kami sudah berada di salah satu kursi di area outdoor Lawangwangi.

“Enak dilihat? Gue.” jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari buku menu.

Aku memutar kedua bola mataku. “Enak dimakan.”

“Gue juga.”

Akhirnya aku mendongak seiring laki-laki di hadapanku yang ikut mendongak dan terkekeh.

“Ini kayaknya enak,” Janitra mengarahkan jarinya ke salah satu menu. “Mau coba nggak?”

Aku tahu Janitra gemar mencoba hal baru – secara harfiah dan kiasan, berbanding terbalik denganku yang lebih memilih pilihan aman dalam segala kondisi dan situasi. Jadi, aku memutuskan untuk mengarahkan jariku ke salah satu menu pasta di sana. “Gue ini aja deh, Jan.”

“Payah,” decaknya kecewa mengetahui aku, yang lagi-lagi, tetap di zona nyamanku. “Gini deh, lo pilih buat gue, gue pilih buat lo. Okey?”

Aku menimbang-nimbang tawaran Janitra. Laki-laki di hadapanku ini memang membuat segalanya rumit dengan menjadikannya pilihan. Ini kali kedua setelah pertemuan kami di bar satu bulan lalu, kala ia mengernyitkan dahi melihat aku yang dua kali menikmati tequila favoritku tanpa mengubah pesanan setelah menandaskan gelas pertama, yang kemudian membuat Janitra menawarkan untuk memesan salah satu racikan bartender – which I realy love, tanpa rasa menyesal karena sudah mengiyakan tawarannya.

“Okey, deal.”

Setelah menunggu setengah jam, makanan kami datang. Aku dapat melihat jelas seringai Janitra saat satu piring Penne Creamy Spinach dengan shrimp dan irisan beef bacon terhidang di hadapanku.

“Not so bad.” Aku mengangguk-angguk melihat hidangan di hadapanku yang menggugah selera, membuat perutku seketika nggak sabar untuk menyantapnya.

“Ini juga lumayan,” Janitra memutar satu piring Nasi Bali lengkap dengan sate lilit di hadapannya. “Looks good.”

Kami menikmati makan siang yang sudah terlalu jauh dari jadwal dengan suara canda tawa anak-anak muda di berbagai sudut Lawangwangi. Seperti lima perempuan yang duduk di sebelah kami, yang kutaksir usianya baru menginjak 18 tahun, yang membicarakan hubungan nggak jelas yang akan mereka hadapi setelah lulus SMA – membuat Janitra terkekeh akan polemik hidup anak muda yang hanya sebatas jarak dengan sang pujaan hati. Atau salah satu pasangan yang enggan bertukar tempat di salah satu spot foto utama cafe ini, yang aku dan Janitra asumsikan hasil fotonya belum memenuhi ekspektasi mereka untuk diunggah di laman media sosial keduanya, membuat geram beberapa orang yang sudah sedari tadi menunggu giliran mereka.

“Yuk,” Janitra bangkit dari kursinya saat menyadari langit yang sudah berubah menjadi jingga. “Takut macet.”

“Thank you,” ucapku saat Janitra terlebih dahulu mebayar tagihan pesanan kami sore ini. “I’ll treat you next time.”

“There will be a next time, huh?” seringainya kembali muncul saat ia memasukan kartunya ke dalam dompet.

“If you’re lucky enough.”

“I’m always lucky, though.”

Lagi-lagi aku memutarf kedua bola mataku kesal seraya merapatka cardiganku. Entah mengapa Bandung selalu lebih dingin saat malam menyapa.

Janitra menginjak pedal gas menuju arah Pasteur saat hujan perlahan turun membasahi jalanan yang kami lewati. Sedari masuk mobil tadi, aku dan Janitra sama-sama nggak mencoba memulai obrolan, pun sudah bukan hal aneh kalau kami hanya berdiam diri dengan isi pikiran masing-masing.

“Macet banget sial,” umpat Janitra melihat deretan mobil yang nggak bergerak di hadapannya. “Laper lagi.”

Aku menoleh ke arahnya dengan wajah terkejut. “Lo tadi makan satu piring ditambah punya gue gila.”

“Kalo hujan dan macet kan bawaannya laper, Sach.”

Aku hanya menggelengkan kepala nggak percaya atas kapasitas perut laki-laki satu ini. sialnya, nggak berapa lama kemudian, perutku ikut berbunyi, yang mengakibatkan Janitra meledekku habis-habisan.

“Pada puter balik masa, Jan.” bisikku saat kami masih di tempat yang sama selama hampir satu jam. “Masuk tol aja belum ini.”

“Lebih pilih buat extend kayaknya mereka,” sambungnya asal. “Extend juga apa kita, Sach?”

“Yuk.”

Aku rasa aku sudah gila? Atau berada bersama Janitra membuatku gila? Atau memang nyatanya aku nggak pernah waras? Entahlah.

“Kalo ke arah hotel lo tadi, kayaknya sama aja macetnya.” Janitra membelokan kemudi mobilnya ke arah jalan lain yang tadi nggak kita lewati. “Coba cek ke Riau aja kali ya?”

Ini kali pertama aku menghabiskan waktu dengan Janitra di luar bar atau tempat remang-remang lainnya di Jakarta, kali pertama aku akan menghabiskan satu malam dengannya secara sadar, nggak dengan aku yang limbung nggak sadarkan diri di ujung malam. Namun entah mengapa, aku percaya dengannya, aku percaya kemana ia membawa laju mobilnya untuk kami menemukan tempat beristirahat malam ini. Aku percaya Janitra, terlepas dari perlakuan buruk yang selalu aku dengar dari banyak orang tentang betapa mengerikannya berada di sisi laki-laki dengan tinggi menjulang tersebut.

“Let’s go,” Ia menarik rem tangan mobilnya saat kami sudah berada di basement salah satu hotel bintang 4 di jalan Riau. “Semoga ada kamar kosong.”

Entah dewi fortuna sedang berpihak padaku – pada kami, secara kebetulan kamar dengan tipe twin bed masih tersisa satu, dengan segera Janitra mengulurkan kartu berwarna hitam miliknya untuk proses pembayaran. Nggak butuh waktu lama untuk kami mendapatkan dua keycard dan seorang petugas yang memandu kami menuju lift untuk naik ke lantai tempat kamar kami berada.

“Nice, nice,” ucap Janitra lega saat melihat dua tempat tidur besar yang sesuai dengan penjelasan petugas resepsionis. “Lo mau di deket jendela atau nggak?”

“Boleh.” jawabku sambil menaruh koper kecil berisi segala keperluanku di salah satu sisi kamar sebelum mengeluarkan beberapa barang dari sana. “Gue mandi duluan ya, gerah banget.”

Sekilas aku melihat Janitra yang tengah berdiri di depan tv mengangguk sembari melepas sweater miliknya yang kini menyisakan t-shirt putih polos yang melekat pada tubuhnya.

Saat keluar dari kamar mandi, hidungku dimanjakan dengan aroma makanan yang seketika menggugah rasa laparku. Aku melangkah berjalan ke Janitra yang tengah sibuk di meja ujung ruangan.

“Beli apa?” tanyaku saat sudah berdiri di sebelahnya. “Bubur?”

Janitra mengangguk dan menggeser satu mangkuk bubur ke hadapanku. “Bubur Bejo, bubur paling enak di dunia.”

“Najis lebay banget.” cibirku melihat tingkah konyolnya terhadap sesuatu yang ia suka. “Mandi sana, Jan. Nggak lengket apa.”

Janitra menggumamkan sesuatu yang aku nggak jelas tahu apa artinya dikarenakan mulutnya yang penuh dengan bubur. Ia berjalan ke arah tempat tidurnya dan meletakkan mangkok buburnya di tengah kasur, sedangkan satu tagannya meraih ponsel miliknya yang tengah ia charge. Naas, bubur tersebut tumpah mengotori kasur karena gerakan tubuhnya yang terlalu brutal di sana.

“Makanya,” aku tertawa melihat raut wajahnya yang kecewa melihat makanan favoritnya terbuang sia-sia. “Kalo makan tuh jangan di kasur.”

Janitra mengumpat walaupun tangannya dengan telaten membersihkan tumpahan bubur di atas kasurnya, membuatku nggak berhenti tertawa.

“Bagi dua sini, Jan,” tawarku cuma-cuma, karena pasti aku nggak akan bisa menghabiskan satu prosi besar bubur ini sendiri, belum lagi topingnya yang berlimpah. “Gue nggak akan habis sendirian.”

Namanya bukan Janitra kalau porsi makannya nggak segunung. Ia berakhir menghabiskan buburku dan memesan room service. Yang lebih aneh dari kegemarannya makan, aku nggak melihat sedikit lemak di tubuhnya. Dunia benar-benar nggak adil, saat aku harus tetap menjaga pola makan dan work out di saat yang bersamaan, laki-laki di sebelahku ini mengkonsumsi alkohol serta makanan cepat saji dengan porsi berlimpah tanpa takut akan berat badannya yang naik drastis.

“Gue tidur sama lo ya, Sach.” Tiba-tiba saja Ia menyelinap di balik selimut saat aku tengah fokus dengan ponselku. “Masa gue tidur di atas bekas bubur.”

“Lagian sih banyak gaya.” ujarku kesal namun tetap bergeser agar ia mendapatkan cukup tempat untuk berbaring.

No, there no was no butterflies, no fireworks, nothing.

Hanya kehangatan saat lengan atau kaki kami yang nggak sengaja bersentuhan.

“Good night, Sach.”

“Good night, Jan.”


I woke up with his one hand around my waist.

Aku nggak terlalu ingat bagaimana pergerakan tidur kami, yang aku tahu hanya satu tangannya yang perlahan berada di pinggulku, setelah ia membenarkan posisi selimut pada kaki kami yang berantakan. Aku mendengar dengkuran halusnya di belakangku, ia masih tidur. Satu tanganku terulur meraih ponselku yang berada di meja nakas sebelum tempat tidur, masih pukul delapan pagi. Jadwal sarapan dimulai pada pukul enam sampai sepuluh, kami masih memiliki waktu dua jam. Aku memutuskan untuk berbalik menghadap Janitra yang semula kupunggungi sepanjang malam. Ia sedikit mengerang namun kembali tidur, dengan tangannya yang masih berada di posisi yang sama. Dalam jarak sedekat ini, aku mengamati tiap lekuk wajahnya, bulu mata panjangnya yang lentik, hidung bangirnya, bibir tipisnya, dan segala pesonanya yang bahkan bisa kurasakan dalam keadaan setengah sadar karena rasa kantuk yang masih menyelimutiku.

“Sach,” Aku mengerjapkan mata ketika mendengar bisikan lirih Janitra. “Jam berapa?”

“Jam delapan lewat.”

Perlahan kedua matanya terbuka, bertemu dengan kedua mataku yang sedari tadi nggak mengalihkan pandangan dari dirinya. Hell, this is the perfect position to kiss, I’m not gonna lie. Dalam satu gerakan pelan yang pasti, tangannya yang berada di pinggulku ia tarik agar aku lebih mendekat – merapat pada tubuhnya. Aku gagal mempertahankan fokus pandangku pada kedua matanya, karena pada kenyataannya, kini pandanganku turun pada bibir tipisnya.

“I don’t do kiss, it’s too intimate, and you know that right?” tanyanya nyaris berbisik, yang segera kubalas dengan anggukan. “But, on a scale of one to ten, how bad – “

“Eight.”

Ia tersenyum sebelum memangkas jarak di antara kami, bibirnya menyapa bibirku dengan perlahan, bahkan aku masih memproses semuanya selama beberapa detik sebelum pada akhirnya ikut memejamkan mata. Ada banyak pertanyaan berputar di kepalaku, salah satu pertanyaan terbesarnya adalah, bagaimana bibirnya begitu lembut melumat bibirku, bagaimana lengannya perlahan bergerak dari pinggulku menuju pipiku, bagaimana ia begitu hati-hati menyentuhku seakan satu gerakan yang salah mampu menghancurkanku berkeping-keping.

Saat lidahnya berhenti di dalam sana seakan menunggu jawaban, aku menyambutnya dengan senang hati tanpa tekanan. Tanganku yang diam kini ikut bergerak meremas pelan kaus bagian depan miliknya.

Detik berikutnya ia berhenti.

Janitra berhenti menciumku.

Ia menjatuhkan wajahnya pada bantal yang menopang kepala kami, namun segera kembali menoleh ke padaku saat tanganku berpindah ke lengannya. Ia mengecup pelipisku sebelum bangkit dari kasur.

“Yuk sarapan.” ajaknya seraya meraih sweater miliknya yang tergantung di lemari pakaian, kemudian meraih dua pasang sandal hotel yang tersimpan di rak bagian bawah untuk dirinya dan diriku.

Aku yang masih terkejut dan kebingungan dengan segera turun dari kasur, mengekori Janitra yang terlebih dahulu berjalan keluar kamar.

He is completely a wholhe new different person at this point.

Kami menghabiskan sarapan pagi dalam diam, pun ia hanya melahap satu mangkuk kecil cream soup dan dua lapis roti. Nggak ada satu patah katapun yang keluar dari bibirnya selain ajakan kembali ke kamar saat ia menyadari aku yang sudah berhenti makan dan kini bersandar sepenuhnya pada kursi.

“Gue keluar dulu ya Sach, sebentar.” ucapnya saat aku akan melangkahkan kaki masuk ke kamar mandi, nggak berapa lama setelah kami sampai di kamar.

Aku mengangguk sebelum mendengar suara pintu tertutup. Nggak ada pikiran macam-macam atas apa yang akan terjadi setelahnya.

Pukul 11.30, panggilan telepon pertama dari resepsionis, menanyakan apakah kami akan check out atau extend, yang tentu saja aku jawab dengan pilihan pertama. Dan Janitra belum juga kembali.

Pukul 12.00, panggilan telepon kedua dari resepsionis, menyanyakan pertanyaan yang sama, yang tetap aku jawab dengan pilihan yang sama. Dan Janitra masih belum juga kembali.

Pukul 12.05, ketukan pertama dari petugas hotel di pintu kamar kami. Aku memutuskan untuk menyapu ruangan sekali lagi, kalau-kalau ada barang yang tertinggal.

Pada detik ini aku tersadar, Janitra bukan pamit keluar, ia pamit meninggalkanku. Terlalu bodoh untuk menyadari lebih awal bahwa ia sudah membawa seluruh barangnya; ponsel, sweater, sepatu. Iya, hanya itu yang ia bawa.

Dengan langkah berat aku turun ke resepsionis, sepanjang lift turun aku sudah memikirkan kemungkinan terburuk dari semua ini – aku harus kembali ke Jakarta seorang diri.

“Mas, mau tanya, travel dekat sini ada nggak ya?” tanyaku ke salah satu petugas resepsionis yang membantu proses check out-ku.

Tentu saja aku sudah mengecek jadwal kereta untuk siang ini, yang sayangnya hanya tersisa jadwal kereta malam. Aku nggak akan mengambil resiko menaiki kereta malam, mengetahui bahwa aku harus bekerja pukul 8 pagi esok hari.

“Belum booking ya, Teh? Biasanya kalau belum booking, datang ke Ciwalk aja, di sana bisa beli tiket on the spot kalau ada sisa kursi.”

Aku mengangguk paham dan mengucapkan terima kasih sebelum menggeret koperku ke pintu masuk utama hotel. Di saat yang bersamaan, petugas yang berjaga pada pintu masuk bertanya apakah aku butuh taksi untuk ke tempat tujuan, yang segera aku iya kan.

Persetan dengan Janitra, syukurku lebih banyak aku panjatkan ke kursi kosong milik seseorang yang membatalkan kepergiannya ke Jakarta siang ini. Terlebih salah satu petugas travel memberiku satu kotak berukuran sedang berisi kebab lengkap dengan minum dan roti karena kelebihan jumlah pesanan dari seorang dermawan hari ini. Lagi-lagi aku berucpa syukur, karena jujur saja aku belum sempat mengisi perut siang ini, waktuku aku habiskan dengan menunggu Janitra.

Saat laju travel bergerak meninggalkan Bandung, aku tahu setelah ini kami nggak akan sama lagi.

Janitra long au soon.

One Minutes Desperately Planning and Unplanning

Her

Aku merasa seperti robot. Hari-hariku berjalanan seperti biasa, namun enam bulan belakangan ini terasa kosong – hampa. Upaya meningkatkan semangat hidup yang sudah aku lakukan sama sekali nggak membuahkan hasil, maksudku, upaya memeriahkan hidupku yang bak film noir ini dengan mengembalikan kehidupan gemerlapku sekali lagi, guna mencari validasi.

Sama halnya seperti saat aku menghabiskan beberapa malam bersama Malik, laki-laki dengan tulang pipi paling tegas yang pernah kutemui, dengan segala tutur lembut dan sikap manisnya. Sayangnya di pertemuan kelima kami, saat kedua tangan kokohnya mengusap lembut punggung telanjangku, bukan namanya yang aku sebut, melainkan nama laki-laki lain. Yang membuatku tahu bahwa selama ini, nyatanya, aku hanya mencari distraksi atas pikiran-pikiran yang kerap kali menguasai isi kepalaku, akan satu nama.

Aku ingat betapa memalukannya ketika Jorel memberiku kejutan dengan berdiri di depan pintu apartemenku dengan satu buket bunga yang berukuran hampir setengah badannya namun yang ada di pikiranku, sialnya, tetap laki-laki itu. Laki-laki yang mengelus puncak kepalaku saat kami berada di balkon lantai dua rumahnya, sesaat setelah aku bergumam bahwa ingin rasanya menerima buket bunga dari seseorang tanpa perlu meminta, yang membuat minggu pagiku seratus kali lipat lebih indah karena kedatangan delivery man dari kios bunga terbaik di Jakarta, lengkap dengan notes singkat agar hariku menyenangkan. Dan hal terbaik dari itu semua adalah, kenyataan bahwa saat aku mengunjungi rumahnya setelah beberapa kali ia mengirimkan aku bunga, terdapat deretan bunga kering dengan tipe yang sama dengan milikku.

“Biar gue tau kalo bunga yang gue kasih ke lo itu udah layu atau belum,” jawabnya sembari menyeruput kopi hitamnya saat kami tengah duduk di meja makan rumahnya malam itu. “Makanya gue beli dua, buat lo dan buat gue. Kalo punya gue layu, berarti punya lo juga. Jadi gue tau kapan harus kirim fresh flowers.”

To say I love him might sound cringe.

But I do love him.

And I miss him, like crazy.

Beberapa kali aku bertemu Rakagi atau Kaluna di rumah sakit saat aku tengah berkunjung ke poli jiwa di rumah sakit tempat mereka praktik, namun keduanya nggak pernah membahas atau bertanya perihal hubunganku dengan salah satu laki-laki tersebut. Bukan hanya Rakagi dan Kaluna, aku cukup sering berpapasan dengan Kailan dan Keiramina di Salieri, seakan tahu kondisiku dan sepupunya yang sedang nggak baik-baik saja, Kailan lebih memilih untuk bertanya perihal kesibukanku, sedangkan Keiramina akan membahas menu Salieri terbaru favoritnya. Dan yang terakhir, ada Janitra, seakan kompak dengan para sepupunya yang lain, saat kami bertemu di salah satu bar, ia hanya bertanya tentang kelas keramik yang belakangan ini aku gemari. Kalau boleh jujur, perlakuan keluarganya membuatku seakan dimengerti, menyenangkan rasanya memiliki orang-orang yang bertanya tentang kabar dan keadaanku, disamping situasi runyam yang tengah menimpa kami.

Bercengkrama dengan keluarga Riahi dalam kurun waktu yang nggak sebentar, kadang membuatku merindukan sosok keluarga, karena pada kenyataannya, aku sudah nggak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Hanya diriku sendiri.

Aku memutuskan untuk kembali mengambil waktu cutiku sepenuhnya untuk berkunjung ke makam Eyang Uti serta Mama dan Papa, sebelum akhirnya membeli tiket one-way ke Paris dan mengemasi barangku.

“Sach, gue titip apart ya.” ucapku saat sambungan telepon kami terhubung. “Kali ini seminggu aja kok, nggak lebih dan nggak kurang.”

“Berisik banget,” protes Sachi sembari sedikit berteriak karena suara bising bandara. “Pokoknya take your time ya, Le. Jaga diri baik-baik. Kalo satu minggu nggak pulang, gue sama anak-naka susul ke sana.”

Aku hanya tertawa mendengar candaan Sachi. Usai berpamitan dan menutup telepon, aku berjalan ke arah gate yang berjarak nggak jauh dari tempatku duduk.

Untuk kali pertama dalam waktu yang lama, akhirnya aku siap.

Aku ingat sewaktu kami pertama kali menetap di kota cinta ini, ketika Papa dipindah tugaskan oleh perusahaannya untuk mengambil alih kantor pusat yang berlokasi di jantung kota Paris. Ariella berumur tujuh tahun waktu itu hanya bisa mengangguk dan menggeleng, bahkan aku memerlukan waktu hampir satu tahun untuk beradaptasi dengan lingkungan baru yang asing. Seiring berjalannya waktu, aku mulai terbiasa dengan lingkungan sekelilingku, membuatku memutuskan untuk masuk ke jenjang pendidikan yang setara dengan sekolah dasar di sana. Senyum lebar Mama nggak berhenti terukir pada paras cantiknya ketika putri sematawayangnya beradaptasi jauh lebih cepat dari perkiraannya.

Paris bukan hanya destinasi wisata buatku, Paris adalah sebagian hidupku. Setiap sudutnya penuh dengan kenangan mama dan papa. Berbeda dengan kali terakhir aku ke Paris, beberapa tahun lalu, kali ini rasanya lebih, aku nggak tahu kata apa yang sesuai untuk mendeskripsikannya, mungkin lega?

Lega.

Kunjungan kali ini aku lakukan dengan sadar dan sepenuhnya perjalanan, bukan pelarian. Kalau kali terakhir aku menginjakan kaki di Paris dengan isi kepala yang berisik, berbanding terbalik dengan kali ini yang jauh lebih tenang. Permasalahan dengan Patra sudah teratasi, perang batin dengan diriku sendiri sudah termaafkan, serta menerima bahwa mama dan papa hanya bisa kurasakan kehadirannya dengan mata terpenjam, buatku semua itu cukup – jauh lebih cukp. Dan kenyataan bahwa Paris adalah kota di mana aku bertemu dengan dirinya untuk pertama kali.

Aku mengerjapkan mata ketika menyadari bahwa aku sudah terlalu lama berdiri di pinggir sungai Seine, menatap entah apa yang ada di hadapanku. Menit berikutnya aku memutuskan untuk menghampiri kedai kopi kecil di kanan jalan.

“Un café s'il vous plait.” ucapku sembari mengulurkan satu lembar uang.

Dengan cekatan sang penjual berbalik guna menyiapkan kopi panas yang kupesan. Seketika aroma kopi memenuhi indera penciumanku. Sebenarnya memesan kopi, atau minuman panas lainnya, di musim dingin seperti ini nggak terlalu membantu. Karena dalam hitungan menit, minuman panas tersebut akan dengan cepat berubah menjadi minuman dingin. Namun aku sedang nggak mau menegak wine yang kubawa di sling bag-ku.

Sang penjual mengulurkan satu gelas paper cup dengan asap yang mengepul di atasnya kepadaku. Aku tersenyum dan berucap, “Merci.”

Aku ingat beberapa minggu yang lalu, Keiramina memberitahuku tentang Salieri yang baru saja membuka cabang baru di Paris, tepatnya di Rue de L'Aubreuvoir. Aku menegak habis sisa kopi panasku yang sudah dingin dan melemparkannya ke tempat sampah, kemudian melirik jam di pergelangan tangan kiriku seraya merapatkan coat cokelat-ku sebelum berjalan ke arah Montmartre. Aku masih memiliki waktu kurang lebih lima belas menit sebelum jam menunjukan pukul 12 malam.

Berjalan menyusuri jalan Paris di malam hari mengingatkanku pada kali terakhir aku menginjakan kaki di kota ini, lebih tepatnya saat aku mencoba melarikan diri dari kebisingan ibukota dikarenakan beberapa hal tertentu yang menguji kewarasanku. I was helpless back then, and still. Mungkin, kalau semua baik-baik saja, aku sudah bahagia bersama satu laki-laki pilihanku. Atau, jika segalanya sesuai dengan rencana, aku mungkin sudah menimang bayi kecil. Namun sayag, bahkan di ujung umur 27 tahun ini, aku masih nggak benar-benar tahu apa yang aku mau – apa yang benar-benar aku mau.

Sekali lagi kulirik jam di pergelangan tanganku sembari merapatnya coat yang menyelimuti tubuhnya. Lima menit lagi, batinku. Seketika pikiranku bercabang akan hal-hal mustahil yang terlintas pada otakku. Tulisan besar Salieri di seberang jalan sudah terlihat, melihat Salieri seperti melihat rumah, entah apa definisi harfiahnya.

Tiga menit terakhir sebelum jam menunjukan pukul 12, aku harap Sachi, Razi dan Shafrina ada di sini.

Dua menit terakhir sebelum jam menunjukan pukul 12, aku harap mama, papa dan eyang uti ada di sini.

Satu menit terakhir sebelum jam menunjukan pukul 12, aku harap Teraa di sini, merayakan hari lahirku – yang beberapa tahun belakangan ini selalu kuhabiskan dengan dia, ada di sini.

Telat pukul 12 saat kakiku melangkah masuk ke Salieri, kedua mataku bertabrakan dengan sepasang mata hitam yang baru saja mendongak. Aku tahu ada setumpuk dosa yang sudah kuperbuat, dengan sengaja dan tanpa sengaja, namun mengapa Tuhan selalu memberiku kesempatan dengan mengabulkan doa terakhir yang bagiku, sangat mustahil?

The best things come when you least expect them to, no?


Him

Semanjak gue duduk di bangku sekolah dasar, Papi dan Mami ngga pernah absen bertengkar di rumah. Entah karena salah satu dari mereka yang melewati hari kurang baik, atau masalah kecil lain yang membuat keduanya saling tunjuk jari. Kalau di rumah sudah mulai berisik, Pak Budi – supir keluarga gue, inisiatif mengajak gue masuk ke mobil dan membawa gue mengitari komplek. Nggak, gue nggak kurang menerima kasih sayang dari keduanya, gue nggak merasa kehilangan sosok Ayah pun Ibu dalma keluarga lantaran Papi dan Mami selalu menghujani gue dengan seluruh kasih sayang yang mereka miliki. Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan dan tahun demi tahun, gue sudah mulai terbiasa dengan keributan mereka. Sampai pada akhirnya gue pulang ke rumah dalam keadaan kosong. bukan, bukan kosong tanpa barang, namun kosong seakan tak berpenghuni.

Rasanya asing.

Gue sudah mulai terbiasa dengan keributan yang disebabkan oleh adu mulut Papi dan Mami. Jadi, sewaktu gue mendapati keheningan di dalam rumah, rasanya hampa, seperti ada yang hilang. Siang itu, sepulang sekolah, ue dibawa Pak Budi ke rumah Oma.

“Terra kalau nggak mau di rumah, tinggal di kamar sini ya.” kata Oma seraya mengelus lembur rambut gue. “Ada Kafka juga di kamar sebelah.”

Saat itu mungkin umur gue masih 13 tahun, tapi gue nggak bodoh untuk segera memahami situasi yang sedang terjadi.

“Aku di rumah aja, Oma.” jawab gue yang membuat Pak Budi terkejut, pun Oma. “Terra gapapa di rumah walaupun nggak ada Papi sama Mami. Ada Pak Budi sama Mbak Ani.”

Sejak saat itu gue nggak pernah lagi lihat Papi dan Mami berada di satu ruangan yang sama. Masing-masing dari mereka akan mengunjungi gue di rumah kami secara bergantian. Gue nggak pernah bertanya apa alasan utama mereka nggak lagi tinggal di sini. Gue nggak pernah bertanya kenapa kita nggak lagi sarapan di meja makan bersama layaknya keluarga. Gue nggak pernah berani bertanya, karena nyatanya, gue takut mendengar jawaban dari keduanya. Hingga jauh setelahnya, belasan tahun kemudian, gue mendapat jawaban pasti.

An unhappy marriage.

“Monsieur,” gue mengerjapkan kedua mata saat menyadari seorang pelayan yang mengantarkan pesanan kopi kedua gue malam ini. “Your coffee.”

“Merci beaucoup.”

Sudah lebih dari satu bulan gue tinggal di Carlsbad bersama Papi, yang berarti sudah lebih dari satu bulan pula gue meninggalkan Ariella.

Ariella.

Nama yang nggak pernah bosan untuk gue ucapkan layaknya sebuah doa.

Kenyataan bahwa Papi dan Mami, setelah belasan tahun terjebak dalam hubungan nggak sehat yang merugikan satu sama lain, akhirnya, mencapai titik tenga – perpisahan. Secara agama dan negara. Bohong kalau gue bilang semua baik-baik saja, karena pada akhirnya gue harus menghadapi kenyataan bahwa gue nggak lagi punya orangtua yang utuh. Nyatanya juga, bertahun-tahun terbiasa dengan ketidakhadiran keduanya nggak membuat gue lapang berlapang dada ketika menghadapi sesuatu, yang mungkin, sedari dulu gue takuti.

Papi dan Mami pada akhirnya harus berpisah.

Sebuah keputusan yang baik.

Terbaik.

Namun ternyata gue nggak cukup kuat untuk menghadapi kenyataan pahit tersebut saat Oma melontarkan pertanyaan tentang perpisahan Papi dan Mami di acara makan siang bulanan keluarga kami, dengan Ariella di sisi gue yang menunjukan wajah terkejutnya, sama seperti yang lain. Gue bahkan nggak memberi dia kesempatan untuk duduk berdua dan berbagi kisah atau sekedar bertukar pikiran seperti yang kami biasa lakukan sebelumnya.

I suffered from missing her so badly.

And here I am, reminiscing our first meeting, a day before her birthday, in Paris.

Ariella, di antara perempuan-perempuan yang silih berganti mengisi kekosongan hati, adalah satu-satunya yang mampu berada di sisi, sampai buat gue mempertanyakan eksistensi diri sendiri. Harusnya sedari awal gue mengakui bahwa pesonanya mampu memikat gue yang sebelumnya bahkan nggak memperbolehkan perempuan manapun menempati tempat tidur kamar gue di rumah, yet I asked her to move in with me.

Ariella is full of surprises.

“Ayo, Ter.” katanya waktu itu sembari menarik ujung lengan kemeja gue dengan girang. “Nanti waiting list, males nunggu.”

Gue hanya mengekori dia menuju tempat yang bahkan gue nggak tahu apa, di mana, ke mana. “Iya, Ariella.”

Ariella menghentikan langkahnya di depan studio foto mall yang tengah kami kunjungi. Gue mengalihkan pandangan ke perempuan yang sedang tersenyum antusias di sebelah gue dengan bingung. “Tunggu di sini, I won’t be long.”

Kemudian dirinya menghilang di balik salah satu studio foto. Gue hanya bisa terkekeh sembari pasrah. Gue pikir dia akan meminta gue untuk mengabadikan kami berdua secara layak. Namun lagi-lagi gue salah.

“Yuk, gue udah beres.” Ariella menghampiri gue dengan satu lembar map merah berisi foto dirinya dalam berbagai macam ukuran. “Mau lihat nggak?”

Gue mengangguk dan mengeluarkan hasil foto miliknya dari dalam map. Mulai dari ukuran 3x4, 4x6, sampai yang membuat gue sedikit terkejut, foto close up dirinya dengan ukuran 4R. “Ini buat apa di cetak segede gini?”

“Lo tadi bilang gue cantik, jadi gue sekalian foto buat di funeral nanti.”

Just Ariella being Ariella.

And I miss her even more now.

Sebelum pergi meninggalkan Jakarta kemarin, gue sempat singgah ke rumah Oma. Beliau bilang, jangan sampai melewatkan kesempatan hanya karena hal-hal bodoh yang masih bisa dibicarakan. Pun saat gue berpamitan dengan Mami, beliau memberikan satu kotak beludru hitam berisi cincin dengan berlian kecil di tengahnya. Dan entah kenapa gue hanya memikirkan satu nama untuk nantinya gue sematkan cicin tersebut di salah satu jemarinya.

Lima menit sebelum hari berganti menjadi tanggal tiga desember.

Gue memutar-mutar kotak beludru hitam di bawah meja, merapalkan doa yang sangat sulit untuk dikabulkan.

Suara derit pintu Salieri membuat gue mendongak dan mendapati sepasang mata cokelat yang membuat gue sulit untuk memutuskan pandangan.

If this is a dream, please don’t wake me up.


Us

Kami hanya saling menatap tanpa ada satu patah kata yang keluar dari bibir masing-masing. Selain kalimat Tuhan Maha Baik yang nggak berhenti aku rapat dalam hati atas pertemuan mengejutkan ini.

“Happy birthday,” ucapnya yang membuat satu sudut bibirku tertarik sebelum mendorong satu piring kecil berisi potongan red velvet dengan satu lilin kecil ke arahku. “Make a wish.”

I want us.

Aku hanya tersenyum tanpa mampu mengutarakan permohonanku kepadanya, seperti ulang tahun sebelumnya. It’s good to see him. “Apa kabar, Ter?”

“Baik.” God, I miss him so much. “Kamu apa kabar?”

Jutaan kupu-kupu seperti menyerbuku di saat yang bersamaan, menimbulkan sensasi aneh yang membuatku meremas coat-ku di bawah meja. “Baik.”

“I miss you.”

Aku nggak berharap ia akan mengucapkan tiga kata tersebut secepat itu namun, “I miss you, too.”

Sayang, obrolan kami harus di interupsi oleh salah seorang pelayan yang memberitahu bahwa Salieri akan tutup tiga puluh menit lagi. Dengan berat hati aku dan Terra bangkit, melangkah keluar menghadapi udara musim dingin Paris.

“You okey?” tanyanya penuh khawatir. “Mau cari tempat lain?”

Paris nggak pernah sehangat ini di musim dingin, Ter, asal kamu tahu. “I’m good.”

Kami berjalan turun menyusuri Rue de l'Abreuvoir saat Terra berbisik kecil yang nggak sempat aku dengar suaranya.

“Kenapa, Ter?”

Detik berikutnya, langkah kakinya berhenti. Ia membalikan badannya ke arahku. “Maaf.”

“Aku pun.”

“Aku nggak bermaksud buat pergi gitu aja, I was so overwhelmed back then. Badanku ikut kaget. And it’s totally okey if you forget me.”

Aku mengangguk paham. Lagi pula, aku juga penyumbang setengah masalah yang sempat terjadi di hidupnya. Namun, “Nggak pernah satu hari pun aku nggak ingat kamu, Ter.”

Satu hal yang aku sadari, suara kami sama-sama bergetar.

“Hypothetically, if you never saw me again. How would it make you feel?”

Aku terkekeh di bawah syal yang membalut leherku sebelum menatapnya tepat di manik mata. “Nggak mau bayangin.”

Tanpa memutuskan pandangan, ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan satu kotak kecil berwarna gelap, dengan perlahan ia membuka kotak kecil tersebut dan mengeluarkan satu benda berkilau.

No.

“Let's spend the rest of our lives together.” ucapnya masih dengan suara yang bergetar. “I’m not proposing you, not yet. Let’s call it promise ring.”

Aku masih terdiam memandangi cicin dengan berlian kecil di tangan Alterra. Lututku lemas seperti nggak memiliki tulang. Aku masih memproses kalimatnya, maksud dari kalimatnya.

“Ariella,” aku mendongak, mendapati kedua matanya yang menatap mataku hangat. “It’s okey to say no.”

“And how can I say no to you?”

Satu anggukan yang membuat senyum laki-laki di hadapanku merekah. Ia meraih tangan kiriku sebelum menyematkan satu cicin di salah satu jemarinya.

I still clearly remember the first feeling I felt when I first started talking to him and I don’t want us to be strangers again. And this is what I've been looking for.

And everything comes to an end, right?

ALTERRA : Everything Comes To An End book version soon on Lavina Publisher.